Tampilkan postingan dengan label ciliwung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ciliwung. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Agustus 2016

Warga Bukit Duri di Bantu Relokasi

Sebanyak 52 kepala keluarga (KK) warga Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan rencananya akan direlokasi ke Rusun Rawa Bebek, Minggu (21/8) besok. Puluhan unit truk disiapkan untuk membantu proses pemindahan barang warga.
"52 KK itu sudah ambil kunci Kamis lalu dari 60 KK yang sudah terdata. Besok akan pindah ke rusun. Yang lain nanti akan menyusul "
"52 KK itu sudah ambil kunci Kamis lalu dari 60 KK yang sudah terdata. Besok akan pindah ke rusun. Yang lain nanti akan menyusul," ujar Mardi Youce, Lurah Bukit Duri, Sabtu (20/8).

Sementara Kasatpol PP Jakarta Selatan, Ujang Herwamawan mengaku sudah menyiapkan unit truk untuk membantu proses pemindahan barang warga.

"Benar, pak Camat sudah menghubungi saya untuk bantuan 12 truk Satpol PP dan 10 truk dari Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC),"

Sebelumnya, sudah 227 KK yang sudah pindah ke Rusun Rawa Bebek dari 460 KK yang terdata di RW 10, 11 dan 12 Kelurahan Bukit Duri. Warga terelokasi adalah yang tinggal sesuai dengan peta bidang yang terkena dampak normalisasi Kali Ciliwung.

Jumat, 28 Agustus 2015

Rusun Jatinegara Barat Terbaik di DKI

Rusun Jatinegara Barat yang berada di pusat kota, atau sekitar 50 meter dari Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, dinilai merupakan rusun terbaik yang ada di ibu kota.
"Bila dibandingkan rusun lain, ini merupakan yang terbaik. Kita akan jaga agar rusun kita ini tetap dalam kondisi baik "
"Bila dibandingkan rusun lain, ini merupakan yang terbaik. Kita akan jaga agar rusun kita ini tetap dalam kondisi baik," kata Sayid Ali, Kepala Unit Pengelola Rusun Wilayah III, Dinas Perumahan dan Gedung Pemda DKI Jakarta, Jumat (28/8).

Mewahnya Rusun Jatinegara Barat seolah menepis anggapan sebagian orang yang menyebutkan rusun yang dikelola pemerintah kerap terlihat kumuh dan semrawut.

Berbeda dengan kebanyakan rusun pemerintah lain, secara fasilitas, warga dimanjakan sebanyak 10 lift dan CCTV. Belum lagi fasilitas unit memiliki dua kamar, dapur basah dan balkon untuk menjemur bermaterial bagunan layaknya apartemen. Di setiap selasar lantai pun dilengkapi sprinkler lengkap berikut sensor kebakaran.

Secara letak, posisinya yang berada sekitar 50 meter dari terminal Kampung Melayu dan 150 meter dari Stasiun Tebet pun memudahkan warga mengakses layanan transportasi publik. Sedangkan Pasar Jatinegara sebagai pasar terbesar di Jakarta Timur pun hanya berjarak sekitar 350 meter saja.

Sayid Ali mengatakan, sebagai biaya perawatan, setiap bulannya para penghuni yang merupakan warga relokasi Kampung Pulo, hanya dipungut biaya Rp 300 ribu.

Biaya tersebut sesuai Perda Nomor 3 Tahun 2012 tentang Retribusi Daerah.

"Untuk teralis sudah mulai dipasang di setiap jendela unit," ujar Sayid.

Fasilitas tambahan yang sudah masuk diantaranya, layanan klinik kesehatan, tempat sampah pilah, perpustakaan anak dan sarana olah raga tenis meja. Nantinya, fasilitas dan sarana seperti PAUD, gerobak usaha dan lain-lain dalam proses menyusul.

Kamis, 27 Agustus 2015

DKI Pastikan Harga Sewa Rusun Jatinegara Barat Tidak Akan Naik

Pemprov DKI Jakarta memastikan tidak akan menaikkan harga sewa Rusun Jatinegara Barat yang ditempati warga Kampung Pulo, Kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur.
" Tidak akan ada kenaikkan harga sewa"
"Tidak akan ada kenaikkan harga sewa. Mereka tetap‎ dikenakan harga sewa unit Rp300 ribu per bulan," kata Ika Lestari Aji, Kepala Dinas Perumahan dan Gedung Pemda DKI Jakarta, Rabu (26/8).

Ika menegaskan, warga Kampung Pulo yang terkena‎ proyek normalisasi Sungai Ciliwung itu diberikan fasilitas hunian di Rusun Jati‎negara Barat dengan biaya sewa atau iuran pemeliharaan sebesar Rp 300 ribu per bulan atau Rp10 ribu per hari.

"‎Bahkan tiga bulan pertama, mereka dibebaskan biaya sewa," ujar Ika.

Ika menjelaskan, biaya sewa rusun sebesar Rp 300 ribu per bulan ‎itu sudah termasuk biaya kebersihan, listrik dan air. Sehingga bisa dipastikan tak ada lagi biaya tambahan lain yang akan dibebankan kepada masyarakat Kampung Pulo.

Mantan Kepala Suku Dinas Sosial Jakarta Utara ini mengimbau kepada seluruh warga Kampung Pulo yang telah menempati unit Rusun Jatinegara Barat agar tidak perlu lagi merasa khawatir. 

"Saya imbau warga jangan lagi resah dan merasa khawatir. Pemprov DKI tidak mau membebani warga selama tinggal di rusun," tandas Ika.

Pemprov Jakarta Akan Bangun Rusunawa 18 Lantai di Kampung Pulo

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama berencana membangun rumah susun sederhana sewa (rusunawa) setinggi 16-18 lantai di Kampung Pulo, Kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur.
"Saya mau bikin tempat wisata. Nanti saya bikinin rusun 16 atau 18 lantai, ada hutan dan wisata air Ciliwung yang bersih "
Selain membangun rusunawa, kata Basuki, di sekitar areal Kampung Pulo nantinya akan dibuatkan wisata air sepanjang aliran Kali Ciliwung di kawasan tersebut.

"‎Kampung Pulo saya mau tinggiin. Saya mau bikin tempat wisata. Nanti saya bikinin rusun 16 atau 18 lantai, ada hutan dan wisata air Ciliwung yang bersih. Bisa buat jualan di bawah juga,"

Basuki menuturkan, pihaknya akan berupaya mengembalikan Kampung Pulo seperti saat zaman penjajahan Belanda dengan membangun wisata air di kawasan tersebut. Hal ini sesuai dengan nama dari Kampung Pulo yang diartikan kampung di tengah pulau.

"Jadi Kampung Pulo itu adalah kampung di tengah pulau. Di tengah itu baru asli Kampung Pulo, dari zaman Belanda ada," terang Basuki.

Dikatakan Basuki, setelah rusunawa rampung dibangun, warga Kampung Pulo bisa menempatinya dengan cukup membayar sewa Rp 300 ribu per bulan atau Rp 10 ribu per harinya.

"Kita bikin deh apartemen di tengah. Mereka tinggal seumur hidup. Saya subsidi, tinggal bayar biaya pemeliharaan saja. Nanti kalau di rusun ada engsel pintu rusak, kami yang akan kerjain," jelas Basuki.

Rabu, 04 Februari 2015

DKI Terus Benahi Sistem Aliran Sungai

Berbagai upaya terus dilakukan Pemprov DKI Jakarta untuk mengantisipai puncak banjir di ibu kota yang diprediksi akan berlangsung antara bulan Januari - Ferbruari 2015 sebagaimana prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Salah satunya, dengan terus membenahi sistem aliran sungai di ibu kota. 


"Kita sudah jaga. Saya pikir puncak bisa sampai mendekati Imlek. Kita udah siap kok "
"Kita sudah jaga. Besok kan puncaknya. Saya pikir puncak bisa sampai mendekati Imlek. Kita udah siap kok. Banjir juga nggak akan lama. Kecuali sabotase ya," ujar Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur DKI Jakarta, Senin (2/2).

Dikatakan Basuki, berbagai antisipasi telah dilakukan, termasuk pengerjaan sistem aliran sungai di jalur tengah.

"Kalau sistem tengah, kita sudah selesai (kerjakan), walaupun belum sempurna. Makanya kita keringnya lebih cepat," katanya.

Namun, lanjut Basuki, pembenahan di jalur selatan hingga saat ini masih terkendala maraknya pemukiman kumuh di bantaran sungai yang belum dtertibkan.

”Volume sungai di jalur selatan tidak cukup sehingga pasti meluap. Yang repot sebetulnya, karena di jalur selatan sungainya rata-rata ditutupi rumah mewah sampai kumuh. Seharusnya lebar sungai 20 meter, 12 meter, tapi kondisi riil saat ini tinggal 3-4 meter. Ya masalah. Nah, itu kita akan terus usahakan bongkar. Tidak ada pilihan," tegas Ahok, sapaan akrabnya.

Basuki mengaku pihaknya juga masih terkendala pembebasan lahan untuk pembangunan sembilan waduk baru di ibu kota.

"Belum berfungsi, baru gali. Pembebasan lahan juga masalah. Makanya saya bilang sama mereka, kerjakan saja yang udah ada. Yang kita mau kerjakan tahun ini pemasangan tanggul. Kita tidak ingin rob masuk," ungkapnya.

Sekadar diketahui, sebanyak sembilan waduk baru yang akan dibangun oleh Pemprov DKI tersebar di sembilan lokasi yakni Cakung, Cilincing, Cengkareng, Rorotan, Marunda, Brigif (Jagakarsa), Pondok Ranggon dan Pantai Indah Kapuk.

Minggu, 25 Januari 2015

Logistik untuk Korban Banjir Siap Disalurkan

Untuk meringankan beban warga korban banjir di Jakarta Timur, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menyiagakan logistik yang siap disalurkan ke warga korban banjir di 10 kecamatan. Bantuan tersebut berupa selimut, mie instan, air mineral, serta obat-obatan.
" Kebutuhan logistik tersebut akan kita sebar di 25 Kelurahan dengan total 168 RW rawan banjir"
"Kebutuhan logistik tersebut akan kita sebar di 25 kelurahan dengan total 168 RW rawan banjir, namun yang menjadi target ada empat titik yaitu Kampung Melayu, Bidara Cina, Cawang, dan Balekambang," ujar Kepala BPDB Jakarta Timur, Iwan P Samosir, Minggu (25/1).

Selain bantuan logistik, kata Iwan, pihaknya juga mengerahkan sebanyak 4.062 personel untuk membantu evakuasi para korban yang terjebak banjir.

"Total ada 4.062 petugas gabungan dari beberapa SKPD, semuanya telah siap untuk penanggulangan bencana banjir," kata Iwan.

Mengingat curah hujan yang masih cukup tinggi, lanjut Iwan, pihaknya akan terus melakukan pantauan selama 24 jam.

"Kita terus pantau selama 24 Jam, jika ketinggian air di hulu sudah tinggi maka kita akan sebarkan informasi kepada lurah dan camat melalui SMS Gateway. warga juga akan diberikan peringatan melalui early warning sistem  berupa sirene,"

Sabtu, 22 November 2014

9 Pompa Rusak Selesai Diperbaiki Bulan Depan

Dinas Pekerjaan Umum (DPU) DKI Jakarta saat ini tengah memperbaiki sembilan pompa rusak di ibu kota. Pompa rusak yang sedang diperbaiki tersebut terletak di Kompleks Induk Koperasi Pegawai Negeri (IKPN) Bintaro, Pulo Raya, Kemang, Kebon Baru, dan Bidara Cina. Ditargetkan, perbaikan pompa tersebut selesai bulan depan.

" Sekarang semuanya sedang diperbaiki. Kami targetkan bulan depan semua pompa sudah bisa berfungsi dengan baik"
"Sekarang semuanya sedang diperbaiki. Kami targetkan bulan depan semua pompa sudah bisa berfungsi dengan baik," kata Agus Priyono, Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta, Sabtu (22/11).

Menurut Agus, pompa air sangat diperlukan untuk mengalihkan air yang mengenangi pemukiman warga ke sungai atau waduk. Selain itu juga berfungsi untuk mengalirkan air dari waduk ke laut atau sungai ke sungai apabila kapasitas air semakin tinggi akibat hujan.

Selain memperbaiki pompa, instansinya juga telah mengirimkan dua pompa mobile ke Kebon Baru Tebet. Wilayah Kebon Baru termasuk salah satu lokasi yang dikunjungi Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama saat blusukan beberapa waktu lalu. Di sana, Basuki menemukan pompa air yang tidak berfungsi karena kehabisan bahan bakar.

Sementara itu, untuk peninggian jalan salah satunya dilakukan di Bukit Duri dan Kebon Baru. Pasalnya, kedua lokasi tersebut seringkali terendam banjir, yang mengakibatkan jalan menjadi rusak.

"Kita atasi dengan cara peninggian jalan di situ. Kan kemarin yang terendam sisi utara. Selatan kering karena sudah ditinggikan. Nah, sisi utara akan ditinggikan menggunakan dana dari APBD Perubahan DKI tahun 2014,"

Kamis, 20 November 2014

80 Ton Sampah Diangkut dari Kali Ciliwung

Kesadaran warga untuk tidak membuang sampah ke Kali Ciliwung ternyata masih sangat rendah. Buktinya pasca banjir kiriman dari Bogor dan Depok, Kamis (20/11), tidak hanya membuat sejumlah kawasan tergenang, namun juga mengakibatkan tumpukan sampah yang beratnya mencapai puluhan ton.

" Warga masih membuang sampah ke kali. Kalau banjir ya seperti ini, sampahnya sampai 80 ton yang kami angkat "
Salah satu lokasi tumpukan sampah akibat banjir kiriman terlihat di kolong Jembatan Rawa Jati, Kalibata, Jakarta Selatan. Dari lokasi ini Dinas Kebersihan DKI Jakarta berhasil mengangkat sampat seberat 80 ton. Sampah yang terbawa aliran air kali itu antara lain berupa kayu, bambu, kardus, gabus dan plastik.


"Warga masih membuang sampah ke kali. Kalau banjir ya seperti ini, sampahnya sampai 80 ton yang kami angkat," kata Mumung Mulyana, Kepala Satuan Unit Pelaksana Teknis Tata Kelola Air Dinas Kebersihan DKI.

Mumung menjelaskan, akibat tumpukan sampah di kolong jembatan yang menghubungkan Cililitan, Jakarta Timur dengan Kalibata, Jakarta Selatan itu membuat arus Kali Ciliwung menjadi tersendat. Jika sampah tidak segera dibersihkan, dipastikan akan meluap ke pemukiman warga.

Dalam pembersihan sampah di Jembatan Rawa Jati itu, kata Mumung, pihaknya mengerahkan dua eskavator dan delapan unit truk serta 80 petugas kebersihan. Selanjutnya puluhan ton sampah itu dibawa ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang di Kota Bekasi.

Menurut Mumung, kendala yang ditemui saat mengangkat sampah adalah belum dibongkarnya Jembatan Kalibata lama. Sehingga banyak sampah yang tersangkut di tiang besi penyangga jembatan itu. "Kita harapkan pembongkaran Jembatan Kalibata bisa dipercepat, karena banyak sampah yang tersangkut tiang sehingga air meluap," tandasnya.

Rabu, 19 November 2014

Lima Pintu Air di Jakarta Siaga III

Hujan deras yang mengguyur wilayah Bogor sejak Rabu (19/11) sore membuat tinggi muka air di beberapa pintu air meningkat.

"Ada lima pintu air berstatus siaga III "
Berdasarkan catatan dari Pusat Pengendali dan Operasional (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, dari 12 pintu air yang dipantau, lima diantaranya berada pada posisi siaga III.

Petugas piket Pusdalops BPBD DKI Jakarta, Ratman, mengatakan, pihaknya terus memantau ketinggian muka air di beberapa pintu air. Berdasarkan pantauan yang dilakukan pada pukul 06.00 WIB, lima pintu air berada pada posisi siaga III. Kelimanya yakni Pintu Air Manggarai dengan ketinggian 750 cm, Pintu Air Karet ketinggian 450 cm, Pintu Air Krukut Hulu ketinggian 155 cm, Pintu Air Angke Hulu 170 cm, dan Pintu Air Pasar Ikan 190 cm. "Ada lima pintu air berstatus siaga III," kata Ratman, Kamis (20/11).

Sementara tujuh pintu air lainnya berada pada posisi siaga IV, yaknii Pintu Air Katulampa ketinggian 40 cm, Pintu Air Depok ketinggian 170 cm, Pintu Air Pesanggrahan ketinggian 60 cm, Pintu Air Cipinang Hulu ketinggian 100 cm, Pintu Air Sunter Hulu ketinggian 70 cm, Pintu Air Pulo Gadung ketinggian 365 cm, dan Waduk Pluit -190 cm.

Dia menyebutkan pada pukul 20.00 WIB malam tadi, Pintu Air Katulampa sempat berada pada posisi siaga II dengan ketinggian mencapai 190 cm. Selang beberapa jam, Pintu Air Depok berada pada posisi siaga II dengan ketinggian 330 cm. "Tapi sekarang dua pintu air itu sudah berada pada posisi aman atau siaga IV," ungkapnya.

Beberapa daerah yang berada di aliran Sungai Ciliwung saat ini sudah tergenang. Di antaranya Kelurahan Cawang, Kelurahan Bidara Cina, Kampung Pulo, Bukit Duri, dan Kampung Melayu. "Saat ini masih dilakukan pendataan wilayah mana saja yang tergenang,"

Jumat, 23 Mei 2014

Banjir Kampung Pulo Dapat Diatasi Jika Warga Mengalah



Banjir Kampung Pulo Dapat Diatasi Jika Warga Mengalah

Upaya mengatasi banjir di ibu kota terus dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Pada tahun ini prioritas penanganan dilakukan di kawasan Kampung Pulo, Jakarta Timur. Sedangkan untuk penanganan serupa di bilangan Bukit Duri, Jakarta Selatan baru dapat terealisasi pada tahun mendatang. Namun, hal itu dapat dilakukan, jika warga yang tinggal di bantaran kali mau direlokasi ke rusunawa.

" Warga bantaran kali bersikukuh menuntut ganti rugi. Padahal, Pemprov DKI sudah menyediakan rumah susun sewa (rusunawa) bagi warga"
"Bukit Duri pasti nggak bisa. Kalau Kampung Pulo, kita bisa asal lu ngasih gua, tahun ini nggak banijr . Saya kan sudah bilang, (masalah banjir) Kampung Pulo bisa diatasi asal elo (warga) kasih (lahan yang diduduki) ke gua. Gua sheet pile, gua jamin tahun ini nggak banjir Kampung Pulo. Sudah tahu badan sungai lembah sungai lu dudukin," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki T Purnama di Balaikota, Jumat (23/5).

Dikatakan Basuki, masalah banjir di pemukiman warga Kampung Pulo akan tetap terjadi hingga hari kiamat, jika warga di bantaran kali tidak mau direlokasi.

"Warga bantaran kali bersikukuh menuntut ganti rugi. Padahal, Pemprov DKI sudah menyediakan rumah susun sewa (rusunawa) bagi warga," ujarnya.

Ia menegaskan, warga Kampung Pulo selama berpuluh tahun lamanya telah melanggar aturan karena mendirikan rumah di atas tanah negara secara ilegal.

Alhasil, Pemprov DKI hingga saat ini masih menunggu kesadaran dari warga yang selama berpuluh tahun menduduki lahan secara ilegal untuk mau direlokasi ke rusun.

"Sampai sekarang nggak jelas mau minta ganti rugi segala macam. Padahal itu jalan inspeksi yang diduduki kan. Nah sekarang datang hujan, banjir, ya kan saya sudah bilang sampai kiamat juga Kampung Pulo banjir kalau kamu (warga) nggak kasih saya beresin," tegasnya.

Menurut Ahok, sapaan akrabnya, jika warga Kampung Pulo tidak bersedia direlokasi, hal itu justru akan menyebabkan Jakarta di wilayah utara terbebas banjir.

"Nanti justru yang wilayah utara bebas banjir loh. Nanti di selatan ini, timur malah banjir karena nggak mau ngalah. Yang di hilir yang beres malahan. Mangga Dua, Ampera aman semua," tuturnya.

Namun, diakui mantan Bupati Belitung Timur ini, Gubernur DKI Jakarta, Jokowi sudah mengintruksikan agar dilakukan rekonsiliasi.

"Kita lupakan masa lalu. Eh, ternyata warga malahan ngelunjak minta ganti uang tanah. Pemprov DKI bersedia memberikan uang kerohiman. Dinas P2B DKI sudah diintruksikan. Kalau nggak ada surat, kita bayar 50 persen dari harga Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) atau berapa gitu,"


Sumber: beritajakarta

Kamis, 22 Mei 2014

Proyek Normalisasi Kali Ciliwung Diprotes Warga



Proyek Normalisasi Kali Ciliwung Diprotes Warga

Proyek normalisasi Kali Ciliwung di Cililitan, Kramatjati, Jakarta Timur, diprotes sejumlah warga di pinggir Kali Ciliwung, RT 10/16, Kamis (22/5). Alasannya, pihak kontraktor tak berkoordinasi dengan warga saat pemasangan patok di atas tanah warga.

" Kita akan koordinasi dengan Kementerian PU, terkait tuntutan warga ini. Proyek sementara dihentikan, sambil menunggu jawaban dari PU"
Dalam aksinya warga yang berjumlah sekitar 11 orang, membentangkan sejumlah poster, yang berisi penolakan proyek sebelum dilakukan pembebasan lahan.

Bahkan, sejumlah warga mencabut patok yang ditancapkan kontraktor di atas lahan mereka. Kemudian warga menaiki alat berat dan memaksa pekerja menghentikan proses normalisasi Kali Ciliwung.

Bachtiar (62), warga setempat yang juga pemilik lahan seluas 1.600 meter persegi, menuturkan, aksi protes ini dilakukan karena warga tersinggung dengan sikap kontraktor yang menggarap proyek normalisasi Kali Ciliwung. Sebab, sebelum memasang patok, kontraktor datang dengan dikawal dua oknum anggota TNI. Patok yang terbuat dari pipa dipasang begitu saja dengan jarak 30 meter dari bantaran Ciliwung.

"Padahal, lahan seluas 1 hektare yang dipatok ini merupakan milik empat warga. Yakni dua pemilik masih hidup dan dan dua lainnya adalah ahli waris," ujar Bachtiar, Kamis (22/5).

Ia bersama warga lainnya, kata Bachtiar, bukan tak mendukung program pemerintah pusat yang melakukan normalisasi Ciliwung. Akan tetapi, harus ada prosedur dan aturan main yang dilakukan kontraktor. Namun sayangnya, saat mematok di atas lahan miliknya, kontraktor tak koordinasi.

Pematokan dilakukan dua kali, yakni 3 bulan lalu dan sepekan lalu. Warga sebenarnya marah dengan sikap kontraktor namun karena tak mau ribut, warga memilih diam. Namun hal ini malah dimanfaatkan kontraktor untuk memasang patok.

"Seminggu lalu kontraktor datang ke warga meminta izin untuk melakukan pengerukan kali. Tapi kok kenapa mereka membawa dua anggota TNI? Memang ini zaman orde baru. Ini kan zaman reformasi, saya tetap tidak izinkan," ujar Bachtiar.

Pelaksana Proyek, Didik Sustiono, mengatakan, akan koodinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum terkait tuntutan warga. Sebab proyek normalisasi Ciliwung ini merupakan hajat pemerintah pusat.

"Kita akan koordinasi dengan Kementerian PU, terkait tuntutan warga ini. Proyek sementara dihentikan, sambil menunggu jawaban dari PU," ucapnya.

Menurutnya, alat berat jenis becho, sudah satu minggu disiagakan di tempat tersebut, untuk pengerukan Ciliwung.



Sumber: berita jakarta

Selasa, 04 Februari 2014

Pembebasan Lahan Untuk Waduk Ciawi Dipercepat


 Pembebasan Lahan Untuk Waduk Ciawi Dipercepat  banjir yang terus mengancam wilayah Jakarta dan sekitarnya membuat ide pembangunan Waduk Ciawi tidak bisa ditawar-tawar lagi. Bahkan, Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo ditemani Bupati Bogor, Rachmat Yasin, telah menyempatkan diri melihat lokasi yang akan dijadikan Waduk Ciawi. Karena, pada pada bulan Februari ini akan dilakukan sosialisasi kepada masyarakat yang akan terkena dampak dari pembangunan tersebut.

Meskipun telah tahu lokasi proyek yang akan dibangun, Jokowi juga tidak ingin menunjuk secara pasti titik yang akan dibangun. Karena dikhawatirkan jika ditunjuk sekarang harga tanah justru akan melambung. Pria yang akrab disapa Jokowi ini, hanya menunjukkan lokasi dari kejauhan yakni dari Jalan Raya Puncak, Bogor. "Itu loh lihat Waduk Megamendung (Ciawi). Kira-kira di situ, kurang lebih lah," kata Jokowi, di Bogor, Jawa Barat, Selasa (4/2).

Menurut Jokowi, titik koordinat untuk Waduk Ciawi sudah ditentukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Namun, karena kondisi tanah yang banyak bebatuan maka titiknya diubah, sehingga masuk ke kawasan Megamendung. "Titik koordinat sudah ada. Jadi nanti waduknya di Megamendung, Desa Cipayung. Agak bawahnya itu Waduk Sukamahi," ujarnya.

Rencananya pada bulan Februari ini akan dilakukan sosialisasi kepada masyarakat. Nantinya warga akan mendapatkan ganti rugi atas tanah yang akan dibuat waduk. Untuk pembebasan lahan akan dibebankan ke Pemprov DKI Jakarta, yakni sebesar Rp 1,2 triliun. Sementara untuk pembangunan fisik akan dilakukan oleh Kementerian PU, dengan anggaran Rp 1,9 triliun. "Februari sosialisasi selesai tinggal pendataan dan pemetaan bidang," jelasnya.

Waduk Ciawi atau Megamendung akan dibangun seluas 107 hektar. Nantinya waduk tersebut mampu menampung 11,8 juta meter kubik air. Sehingga aliran Sungai Ciliwung dapat ditampung ke waduk tersebut.

Bupati Bogor, Rachmat Yasin mengatakan, di kawasan Megamendung, ada 144 kepala keluarga (KK) yang tanahnya harus dibebaskan. Ia berjanji akan langsung melakukan sosialisasi. "Kita akan cepat lakukan sosialisasi kepada warga. Agar pekerjaan juga bisa segera dilakukan,"

Berita jakarta

Selasa, 21 Januari 2014

Kebon Baru Terendam 3 Meter, Karena Tanggul Ciliwung Jebol

Lantaran tak kuat menahan derasnya arus air, sebuah tanggul di bantaran Kali Ciliwung, tepatnya di Jl H Bawah, Kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, jebol hingga sepanjang 15 meter. Akibatnya, ratusan rumah di sepanjang bantaran kali tergenang hingga mencapai 3 meter. 

Jebolnya tanggul cukup mengejutkan warga setempat yang sedang terlelap tidur. Beruntung petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI, TNI/Polri sigap melakukan evakuasi warga.

Asep (50), warga RT 14/04, Kelurahan Kebon Baru mengatakan, saat tanggul tersebut jebol terdengar suara gemuruh yang kencang dan aliran air langsung menggenagi rumah warga. "Sekitar pukul 23.00 itu terdengar suara kencang, bergemuruh. Air saat ini semakin meninggi dan sudah mencapai 3 meter, kemungkinan akan terus bertambah tinggi," ujarnya, Rabu (22/1).

Jebolnya tanggul itu, kata Asep, sangat mengkhawatirkan warga lantaran ketinggian air terus meningkat. Petugas juga sudah melakukan evakuasi warga ke tempat yang lebih tinggi. "Sebagian warga sudah menyelamatkan diri masing-masing karena ketinggian air terus meninggi," katanya.

Kepala Seksi BPBD DKI Jakarta, Bambang Surya Putra mengatakan, saat ini di lokasi jebolnya tanggul sedang dilakukan evakuasi warga. Namun, tempat evakuasi warga belum ditentukan, karena petugas tengah fokus pada proses evakuasi terlebih dahulu. "Belum ditempatkan, masih proses evakuasi," ucapnya.

Bambang menambahkan, banjir yang diakibatkan luapan Kali Ciliwung malam ini dilaporkan terjadi akan lebih tinggi dari yang terjadi pada 18 Januari 2014 lalu. Untuk itu, warga diminta lebih waspada dan berhati-hati mengingat arus banjir yang sangat kuat. Terlebih, informasi terakhir pada pukul 00.00, Pintu Air Manggarai telah siaga 2 dengan ketinggian 890 sentimeter. "Diperkirakan puncak banjir kiriman akan masuk ke Manggarai pukul 02.00,"

Minggu, 12 Januari 2014

Warga Kampung Melayu Korban Banjir Mengungsi

Ratusan warga korban banjir di RW 03 dan 04 Kampung Pulo, Kampung Melayu, Jatinegara mengungsi ke sejumlah lokasi pengungsian yang disediakan. Sejak pukul 18.30, ratusan warga mendatangi lokasi pengungsian seperti, Masjid At Tawabin, depan RS Hermina dan halaman kantor Sudin Kesehatan Jakarta Timur. Diperkirakan, jumlah pengungsi akan terus bertambah seiring ketinggian banjir di kawasan itu terus meninggi sejak siang tadi.

Selain di Kampung Melayu, banjir juga terjadi di Kelurahan Cawang, Cililitan, Condet, dan Kampung Dukuh di Kecamatan Kramatjati. Lalu, Kelurahan Cipinang Melayu dan Makasar di Kecamatan Makasar. Selain tingginya hujan lokal, banjir di kawasan tersebut juga akibat kiriman dari Bogor yang meluap melalui Kali Ciliwung dan Kali Sunter.

Lurah Kampung Melayu, Bambang Pangestu mengatakan, pengungsi dipastikan akan terus bertambah mengingat air terus meluap dari Kali Ciliwung serta kondisi hujan di daerah Bogor dan sekitarnya. "Saat ini dari catatan yang kami miliki ada 135 jiwa yang mengungsi. Jumlah ini pasti masih akan bertambah. Kami juga sudah siapkan perahu karet untuk evakuasi," ujar Bambang, Minggu (12/1).

Dikatakan Bambang, banjir kali ini menggenangi ribuan rumah yang tersebar di tujuh RW. Ketinggian banjir antara 30 sentimeter hingga 1 meter lebih. Banjir sendiri mulai terjadi sekitar pukul 15.00 tadi.

Mutia (52), salah seorang pengungsi warga RT 03/03, Kampung Pulo mengatakan, lantai dua rumahnya sudah terendam banjir hingga terpaksa membuat dirinya dan keluarga mengungsi. "Kami hanya membawa pakaian secukupnya untuk ganti di tempat pengungsian. Kami sendiri belum tahu sampai kapan akan mengungsi, mudah-mudahan sih besok surut jadi bisa kembali ke rumah," kata Mutia.

Sementara itu, Camat Kramatjati, Dian Furwanto mengatakan, banjir di Kelurahan Dukuh merendam ratusan rumah di RW 03 dan 04 dengan ketinggian 40-50 sentimeter.  Sedangkan banjir di Kelurahan Cawang terjadi di RW 01, 02, 03, 05 dan 12 dengan ketinggian banjir mencapai 50-200 sentimeter. Bahkan, RW 03 banjir terjadi hingga ketinggian 3 meter. "Sejauh ini belum ada laporan mengenai warga yang mengungsi. Tapi kami sudah menyiapkan lokasi pengungisan. Kami juga siapkan perahu karet untuk mengevakuasi warga," ucapnya.

Sedangkan banjir di Kelurahan Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar merendam sekitar 500 rumah akibat luapan Kali Sunter. Banjir merendam RW 04 dan 07 hingga sebanyak 560 KK atau 1.1993 warga menjadi korban banjir.



sumber :berita jakarta

Akibat Banjir 5.000 Warga Jakarta Mengungsi


 Akibat Banjir 5.000 Warga Jakarta Mengungsi

Banjir yang melanda ibu kota sejak Minggu (12/1) hingga Senin (13/1) semakin parah. Selain menyebabkan sejumlah ruas jalan tidak bisa dilalui karena tingginya genangan, banjir juga menyebabkan ribuan warga Jakarta mengungsi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta mencatat, sedikitnya 5.000 warga mengungsi di 35 titik lokasi pengungsian yang tersebar di Jakarta.

Mereka adalah korban banjir dari 276 RT, 75 RW di 31 kelurahan dan 18 kecamatan yang tersebar di sejumlah wilayah di DKI. Sedangkan jumlah rumah yang terendam banjir hingga Senin pagi ini sudah mencapai 7.367 rumah yang dihuni oleh 24.269 jiwa.




Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan, banjir terparah terdapat di Kelurahan Cawang dan Kelurahan Cililitan, Kecamatan Kramat Jati. Kemudian Kelurahan Bidara Cina dan Kelurahan Kampung Melayu, Kecamatan Jatinegara.

Banjir di Kelurahan Cawang merendam lima RW, takni RW 01, 02, 03, 05 dan 08, ketinggian air mencapai empat meter. Akibatnya 3.446 jiwa terpaksa mengungsi sejak tadi malam. Mereka mengungsi Carrefour MT Haryono, Posyandu, Kantor Suara Pembaruan lama di Jl Dewi Sartika, sejumlah masjid dan sekolah dasar.

"Kalau di Kelurahan Kampung Melayu, banjir merendam 1.508 rumah yang dihuni 3.427 jiwa. Petugas gabungan dari BPBD DKI dan instansi terkait terus melakukan evakuasi warga yang masih berada di rumah. BNPB juga telah menurunkan Tim Reaksi Cepat sejak Minggu untuk mendampingi BPBD," ujar Sutopo, melalui siaran pers yang diterima beritajakarta.com, Senin (13/1).

Ia mengimbau warga yang tinggal di bantaran kali untuk tetap waspada akan bencana banjir tersebut. Saat ini, ketinggian permukaan air di Sungai Ciliwung Hulu dan Tengah yaitu di Katulampa dan Depok turun di posisi Siaga 4. Namun di pintu air Manggarai masih berada di posisi Siaga 2 dan di Karet Siaga 1.

Ketinggian pintu air Katulampa saat ini tinggal 60 sentimeter atau siaga 4. Kemudian Depok 180 sentimeter (siaga 4), Manggarai 910 sentimeter (siaga 2), Karet 650 sentimeter (siaga 1) dan pintu air Pesanggrahan 170 sentimeter (siaga 4).

Sedangkan di bagian hulu ketinggian permukaan air di Angke Hulu mencapai 290 sentimeter (siaga 2), Cipinang Hulu 110 sentimeter (siaga 4), Sunter Hulu 160 sentimeter (siaga 3). Kemudian di Pulogadung 450 sentimeter (siaga 4), Pasar Ikan 193 sentimeter (siaga 3) dan Krukut Hulu 170 sentimeter (siaga 3).

Sementara, Camat Jatinegara, Sofian Taher menyebutkan, saat ini jumlah pengungsi banjir di Kampung Pulo dan Bidara Cina sudah mencapai 1.340 jiwa. Mereka mengungsi di sejumlah titik. Di antaranya di GOR Jakarta Timur di Jl Otista sebanyak 200 jiwa. Kemudian di kantor Sudin Kesehatan Jakarta Timur di Jl Matraman Raya 215 jiwa. Di RS Hermina sebanyak 100 jiwa dan masih banyak pengungsi di sejumlah titik lainnya.

"Kami terus lakukan evakuasi warga yang masih bertahan maupun terjebak di dalam rumahnya sejak tadi malam," ujar Sofian Taher.

Sedangkan Kasie Operasi Sudin Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Jakarta Timur, Mulyanto menambahkan, evakuasi menggunakan enam perahu karet masih terus dilakukan. Pihaknya masih terus menyisir setiap sudut gang menggunakan perahu karet dan ban dalam. Sebab diakuinya masih banyak warga bertahan.

"Nantinya kita akan jemput paksa kalau mereka tidak mau dievakuasi. Karena ini sudah sangat membahayakan nyawa warga. Debit air akan terus naik hingga siang nanti," ujar Mulyanto.

Sarifah (53), salah seorang pengungsi di kantor Sudin Kesehatan Jakarta Timur, menyebutkan, sudah mengungsi sejak Minggu (12/1) pukul 20.00 atau tadi malam. Ia bersama anggota keluarga dievakuasi petugas gabungan menggunakan perahu karet.

"Ketinggian air sudah mencapai 4 meter dan di loteng airnya sudah setengah meter. Terpaksa kami mau mengungsi, kalau di loteng tidak terendam sih kami memilih bertahan. Alhamdulillah, petugas sejak tadi malam keliling gang menjemput warga," ujar Sarifah.

sumber : berita jakarta

Sabtu, 09 November 2013

Tiga Pintu Air di Jakarta Siaga III

Hujan deras yang mengguyur wilayah ibu kota dan sekitarnya sejak siang tadi membuat aliran air di Kali Ciliwung meluap. Alhasil, kondisi demikian juga menyebabkan ketinggian air di tiga pintu air berada di posisi siaga tiga pada pukul 18.00 tadi. Warga Jakarta diminta tetap waspada akan datangnya banjir.





Petugas Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, Desmanto mengatakan, pada pukul 16.00 ketinggian pintu air Manggarai berada pada angka 780 sentimeter dan sudah memasuki siaga tiga. Kemudian pada pukul 18.00 ketinggiannya kembali meningkat hingga 800 sentimeter. "Sekarang ketinggiannya sudah mencapai 800 sentimeter. Dikhawatirkan jika hujan masih turun ketinggian air akan terus meningkat," kata Deswanto, di Balaikota DKI Jakarta, Jumat (8/11).



Selain itu, kondisi Pintu Air Pasar Ikan juga pada kondisi siaga tinggi dengan ketinggian air mencapai 196 sentimeter dan Pintu Air Karet dengan ketinggian air mencapai 550 sentimeter. Sedangkan untuk pintu air lain kondisinya terpantau normal.

Pintu air yang dalam kondisi normal yakni, Angke Hulu 120 sentimeter, Pesanggrahan 75 sentimeter, Krukut Hulu 60 sentimeter, Katulampa 50 sentimeter, Depok 95 sentimeter, Cipinang Hulu 120 sentimeter, Sunter Hulu 70 sentimeter, Pulogadung 360 sentimeter, dan Waduk Pluit 200 sentimeter.

Selain itu, tambah Desmanto, juga terjadi pembentukan awan hujan di wilayah Jabodetabek. Hal ini berpotensi menyebabkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat diserati kilat atau petir. "Kami sampaikan juga peringatan dini di Jabodetabek berdasarkan  hasil pantauan citra radar cuaca hari ini," katanya.

Wilayah yang berpotensi hujan lebat diantaranya yakni Meruya, Joglo, Kembangan, Kedoya, Kebon Jeruk, Palmerah, Slipi, Senayan, Sudirman, Matraman, Salemba, Jatinegara, Menteng, Kampung Melayu, Cakung, Bekasi, Kelapagading, Rawamangun, Pulogadung, Pondok Kelapa dan sekitarnya.

Ditambahkan Desmanto, kondisi seperti itu diperkirakan masih akan berlangsung hingga pukul 21.30. Selain itu keadaan demikian akan meluas ke wilayah lainnya seperti Tanah Abang, Gambir, Tomang, Ciledug, Kebayoran, Pondok Indah, Cilandak, Ragunan, Blok M, Pondok Cabe, Cinere, Depok, Halim, TMII, Cempaka Putih, Cibubur, Pondok Gede dan sekitarnya.