Senin, 04 November 2013

Masjid Al Anshor di Jalan Pekojan (Kampung Arab)

Kawasan Pekojan, Tambora, Jakarta Barat, dikenal sebagai Kampung Arab. kawasan tersebut terlebih dahulu jadi hunian muslim India yang berasal dari Bengali.  Namun, kemudian komunitas Arab asal Hadramaut, Yaman, tinggal dan menetap di Pekojan,sehingga lebih dikenal sebagai Kampung Arab

 Masjid Jami Annawier di Jalan Pekojan Raya No 71 yang didirikan tahun 1180 H atau 1760 M, yang hingga kini masih kokoh berdiri.Menjadi bukti fisik kehadiran komunitas Arab di Pekojan. Namun, jauh sebelum Masjid Annawier berdiri, komunitas muslim India dari Malabar telah membangun masjid lebih dulu di Pekojan yaitu, Masjid Al Anshor yang dibangun pada tahun 1648 M di Jl Pengukiran II, RT 06/04, Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat.

Masjid ini yang dulunya cukup luas dengan adanya makam yang diyakini sebagai makam para pendiri masjid tersebut, kini telah menyusut dengan ukurannya hanya menyisakan 12x12 meter. Halaman depannya pun hanya tersisa 5 meter dan hanya cukup untuk parkir motor jamaah.
Selain itu, lokasinya  yang berada  dalam gang berukuran satu setengah meter di tengah-tengah hunian penduduk berlantai dua semi permanen membuat keberadaan Masjid Al Anshor yang merupakan bangunan cagar budaya itu tak terlihat dari jalan.

 Awalnya Masjid Al Anshor tidak memiliki kubah seperti masjid pada umumnya, tapi hanya beratapkan genting berbentuk prisma/segitiga. Sejarah Masjid Al Anshor didirikan oleh pedagang muslim India dan awalnya adalah mushola, dahulu di belakang halaman Masjid Al Anshor terdapat tiga makam yang diyakini makam pendiri masjid. Seiring perkembangan wilayah yang semakin padat dan lokasinya yang rawan banjir, pada tahun 1973 masjid cagar budaya itu akhirnya direhab. Kemudian pemugaran berlanjut pada tahun 1985 dengan meninggikan halaman masjid setinggi satu meter pada bagian depan hingga membuat arsitektur bangunan asli masjid berupa empat tiang penyangga kubah hilang.

saat ini material dari bangunan awal yang masih tersisa hanya jendela berkisi, pintu kayu dan palang kayu di atap bangunan masjid bagian belakang yang rutin digunakan sebagai tempat shalat warga. Sedangkan bagian depan masjid merupakan bangunan baru,
Namun, meskipun berada di dalam gang sempit yang hanya dapat dilintasi satu motor, banyak jamaah dari berbagai tempat atau pun warga sekitar yang tetap antusias shalat di tempat tersebut.

Minggu, 03 November 2013

Berburu Merdunya Kicau Burung di Pasar Burung Pramuka

   Pasar Burung Pramuka yang berlokasi di Jl Pramuka, Kecamatan Matraman, Jakarta Timur, tentu  bukanlah tempat yang asing, terutama bagi penggemar burung Di tempat seluas 5.000 meter persegi ini, penggemar burung biasa dimanjakan dengan merdunya riuh kicau burung dari sejumlah toko yang saling bersahutan.
Pasar yang diresmikan tahun 1975 oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, saat itu memang sudah menjadi surganya pencinta burung. Segala jenis burung mulai dari yang umum seperti perkutut hingga yang dilindungi seperti jalak Bali pun ada di sini. Bahkan, tidak hanya burung lokal, burung impor seperti lock bird paruh bengkok, rosela, gul amadin princes dan lain-lain juga dengan mudah dijumpai di pasar ini.




Amin (30) salah seorang pedagang di Pasar Burung Pramuka menuturkan, burung-burung dari luar negeri seperti Taiwan dan Belanda yang sedang tren sekarang tidaklah sulit ditemui di pasar tersebut.
"Sekarang yang lagi tren lock bird paruh bengkok ini. Sepasang kita hargai sekitar Rp 1,5 juta," ujarnya, Senin (13/5).
Selain lock bird paruh bengkok, kata Amin, untuk burung kelas menengah yang kini juga sedang tren adalah kenari impor. Kenari-kenari tersebut, umumnya diimpor dari Belanda, Inggris, Taiwan dan Australia. "Kenari tetap masih jadi salah satu primadona, karena perawatannya gampang. Cukup diberi makan serta dijemur setiap pagi dan sore," terangnya.
Menurutnya, untuk burung mungil impor tersebut, pedagang biasa mematok harga antara Rp 500 ribu hingga Rp 800 ribu. Sementara untuk yang jenis lokal dipatok harga sekitar Rp 300 ribu. Ia menyebut, kenari lokal ukuran tubuhnya lebih kecil dari kenari impor.
Di Pasar Pramuka ini, selain burung-burung impor kelas menengah, juga banyak ditemui burung-burung impor yang harganya relatif mahal. "Seperti yang rosela itu, biasanya disini dipatok harga mulai dari Rp 10 juta hingga Rp 12 juta per ekor. Itu pun tergantung warnanya, semakin bagus warnanya semakin mahal harganya," katanya.

Selain Rosela yang merupakan impor dari Australia dan Inggris, di Pasar Burung ini juga ada pedagang yang menjajakan jalak Bali dengan harga yang cukup mahal. "Kalau untuk burung lokal yang relatif mahal itu jalak Bali, karena burung langka dan dilindungi. Jualnya beserta sertifikat. Kalau soal harga tergantung kesepakatan, tapi pasaran biasanya tidak kurang dari Rp 15 juta," cetusnya.

Pedagang yang sudah lebih dari setahun berdagang di Pasar Pramuka ini mengaku, seluruh burung impor maupun lokal yang dijual di kiosnya dan kios-kios lainnya sudah divaksin sehingga para pembeli tidak perlu khawatir terhadap virus flu burung. "Pokoknya aman, karena sudah pada divaksin. Langganan kita juga dari berbagai kota, seperti Semarang, Solo dan kota-kota lain di Jawa," jelas pedagang yang rata-rata setiap bulan mampu menjual sekitar 10 ekor burung ini.

Selain banyak penjual burung, di Pasar Pramuka juga banyak ditemui pedagang pakan dan kandang burung. Salah satunya, Tono (30), pedagang kandang burung yang sudah berjualan sejak 1996. Di pasar itu, Tono mengaku setiap harinya mampu menjual kandang hingga 20 unit yang ia datangkan langsung dari Solo, Semarang dan Bandung. "Kalau dari sana kualitasnya sudah terjamin. Yang membedakan dari tiga kota tersebut, masing-masing memiliki ciri khas," sebutnya.

Untuk yang dari solo, lanjutnya, memiliki ciri khas, yaitu materialnya halus dan sudah disemprot dengan pewarna. Sedangkan yang dari semarang bercirikan ukiran. "Kalau yang dari Bandung itu biasanya berbentuk bulat. Harganya mulai dari Rp 50 ribu sampai Rp 200 ribu," tandasnya.

Tilang di Jalur Busway,: Tidak Ada Beda TNI, Polisi dan Pejabat

      Tindakan tegas terhadap kendaraan yang melanggar jalur bus Transjakarta benar-benar dibuktikan pihak kepolisian. Tak kurang 1.112 kendaraan ditindak kepolisian selama tiga hari operasi penindakan yang digelar di wilayah ibu kota .


Kepala Subdit Penegakan Hukum Ditlantas Polda Metro Jaya, AKBP Hindarsono mengatakan, kepolisian tidak akan membedakan para pelanggar. Ia bersama jajarannya berjanji akan menindak siapapun tanpa memandang statusnya.  "Tidak ada beda TNI, Polisi dan pejabat, kalau melanggar ya ditindak," kata dia, Jumat (1/11)



Menurut Hindarsono, dalam 3 hari operasi sebanyak 1.112 unit kendaraan baik roda empat maupun roda dua ditilang. Dengan penyitaan barang bukti berupa Surat Izin Mengemudi (SIM) dan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). "Barang bukti yang disita 678 SIM dan 434 STNK. Sementara belum ada kendaraan yang kita sita," tuturnya.

Ia menyebut, untuk wilayah di Jakarta dengan penindakan paling tinggi berada di Jakarta Barat. Sementara terendah di Jakarta Selatan. "Untuk penindakan tertinggi di Jakarta Barat ada 180 tilang, yang terendah di Jakarta Selatan 32 tilang. Dari jenis kendaraannya sepeda motor 679 unit, kendaraan pribadi 387 unit, angkutan umum 107 unit, dan kendaraan dengan beban 39 unit," papar Hindarsono.


Mekanisme tilang yang akan diberlakukan, lanjut Hindarsono, tetap sama seperti penilangan biasanya. Hindarsono mengambil contoh, jika pelanggar diberi slip berwarna biru maka pelanggar membayarnya di Bank. Baru setelah ada tanda bukti dari Bank tertentu, pelanggar bisa langsung ke Polisi untuk mengampil penilangan tersebut.



Namun begitu, lanjut Hindarsono, untuk penerapan denda Rp 1 juta dan Rp 500 ribu bagi pengendara yang masuk jalur busway belum diterapkan. Karena masih banyak proses yang harus dilakukan sebelum menetapkan denda. "Bukan sekarang, tapi setidaknya sudah dikabarkan. Proses masih terus berjalan dan masih menunggu panggilan dari pemprov serta kejaksaan. Karena nanti hakim yang memutuskan, kita hanya mengajukan," jelasnya.

Sabtu, 02 November 2013

Sistem Pertahanan Bawah Tanah Monas Dibangun 2014

Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi) mengatakan basement di Monumen Nasional (Monas), Jakarta, nantinya tidak hanya difungsikan sebagai tempat parkir kendaraan bermotor dan penjualan cinderamata saja . Tetapi juga untuk  sistem pertahanan bawah tanah di kawasan Monas, Jakarta Pusat segera terealisasi. Dijadwalkan pembangunan akan dimulai tahun depan. Selain itu, juga akan dilakukan pemanfaatan daerah pesisir laut di sekitar Marunda, Jakarta Utara sebagai tempat meluncurnya kendaraaan TNI jenis amphibi.

Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo mengungkapkan, semua rencana tersebut akan dilakukan mulai tahun depan. Dengan demikian, Jakarta ikut berkontribusi membantu TNI menyediakan lahan untuk pertahanan. "Ini kita akan mulai tahun depan di Monas, akan dibangun basement besar dan lebar, jadi nanti di situ akan berjalan dan digunakan," ujar Jokowi di lapangan Silang Monas, Jakarta Pusat, Jumat (1/11).

Ia menyebutkan, ada lahan seluas 200 hektar di kawasan Marunda yang bisa digunakan untuk peluncuran amphibi. "Di Marunda itu luasnya lebih dari 200 hektar, sebagian wilayah pantainya itu juga nanti bisa digunakan untuk meluncurnya amphibi ke laut. Memang, hal-hal tersebut harusnya sudah kita rancang," kata Jokowi.

Jokowi juga mengatakan Wakil Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin secara resmi sudah berkonsultasi dengannya untuk memfasilitasi alat utama sistem pertahanan Kementerian Pertahanan yang rencananya akan masuk ke Ibu Kota pada September mendatang. Untuk itu, dibutuhkan penyelarasan dengan tata ruang Jakarta sehingga bisa dimasuki oleh berbagai alutsista.

Lebih lanjut ia mengatakan, Kemayoran juga menjadi salah satu lokasi yang bisa dimungkinkan untuk menjadi pendaratan pesawat saat kondisi darurat.
Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) TNI, Jenderal Budiman mengakui, rencana tersebut telah dibicarakan antara kedua belah pihak. Bahkan, pembicaraan kepada Jokowi telah dilakukan saat ia masih menjabat sebagai Sekjen Kementerian Pertahanan. Lokasi yang menjadi sasaran adalah pusat-pusat strategis, bisa pusat perekonomian, pemerintahan, perindustrian, dan keuangan,

"Oleh sebab itu, Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan sebagainya yang strategis, maka saya berdiskusi dengan beliau, kalau kita punya basement di bangunan, selayaknya basement ini punya penghubung suatu saat bisa digunakan, termasuk saluran air," lanjut Budiman.

Ia pun merekomendasikan ruang bawah tanah Monas yang akan dibangun sebagai lahan parkir dan lokasi berjualan Unit Usaha Mikro (UKM) juga dilengkapi sistem pertahanan darurat. "Gubernur waktu itu respons dan siapkan termasuk rencana beliau yang bagus untuk pertahanan negara," tandasnya.


 

Jumat, 01 November 2013

Alumni ITB gelar Pasar Seni Jakarta di GBK

Jakarta (ANTARA News) - Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung menggelar Pasar Seni Jakarta 2013 yang akan berlangsung di Parkir Timur Gelora Bung Karno selama tiga hari dari tanggal 3 hingga 5 November 2013.

"Pasar Seni Jakarta 2013 ini merupakan wadah kegiatan seni dan bertemunya para seniman, komunitas dan masyarakat untuk saling berinteraksi," kata Ketua Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IAITB) Jakarta, Hendry Harmen di Jakarta, Kamis.

Dia menjelaskan, digelarnya Pasar Seni Jakarta 2013 agar seni dan budaya Indonesia dapat semakin diapresiasi oleh masyarakat, khususnya warga Jakarta.

"Diharapkan, dengan adanya ajang seni dan budaya tersebut akan membuat warga Jakarta lebih beretika, beradab dan berbudaya," katanya.

Ikatan Alumni ITB Jakarta, tambah dia, berinisiatif untuk menghampiri masyarakat Jakarta melalui acara empat tahun sekali mereka yang dinamakan Pasar Seni.

Dan untuk kali ini mereka merubah sedikit namanya menjadi Pasar Seni Jakarta.

Namun, kali ini Pasar Seni jauh berbeda dibandingkan sebelum-sebelumnya karena didukung oleh nama-nama seniman besar dan juga pemerintah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Pemerintah Daerah DKI Jakarta.

Hendry menuturkan, Pasar Seni Jakarta 2013 akan menampilkan berbagai wahana atraksi dan karya seni yang akan dibagi dalam empat zona kehidupan, yaitu zona angin, api, air dan tanah.

Empat zona tersebut menjadi simulasi dari kehidupan masa lalu Jakarta yang dahulu bernama Sunda Kelapa, tempat persinggahan pedagang dari berbagai etnis dan bangsa dunia.

Empat zona unsur kehidupan akan dinikmati oleh pengunjung dipersatukan oleh Zona Antara.

"Di dalamnya akan ditampilkan Kapal Samudera Raksa, kapal kebanggaan yang mengarungi lautan hingga ke Madagaskar dan Pasifik," ungkap Hendry.

Adapun seniman yang akan tampil dalam Pasar Seni Jakarta 2013 di antaranya adalah AD Pirous, Ahdiyat Nur Hartarta, Biranul Anas, Eko Nugroho, Yani Mariani, Heyi Makmun, Titarubi, FX Widayanto, Krisna Murti, Eldwin Pradipta, Heri Dono, Agus Pandega, Eddie Prabandono, Andy Dwi Tjahjono dan Wayan Suklu dan lain sebagainya.


sumber: antara

Selasa, 24 September 2013

JALAN JAKSA JAKARTA GANTI NAMA....?

    Jalan Jaksa , jalan sepanjang 400 meter di Jakarta Pusat, Indonesia. Jalan ini terletak sekitar 1 km di selatan Monas dan sebelah barat stasiun kereta api Gondangdia.Kelurahan Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat

Pemprov DKI Jakarta berencana mengubah nama Jalan Jaksa, menjadi Kampung "Backpacker". tujuannya untuk menjaring turis mancanegara terus datang berlibur di Jakarta.

........asal muasal penamaan berawal pada zaman Belanda, ketika mahasiswa Rechts Hogeschool Batavia (Akademi Hukum Jakarta) menetap di daerah ini. Karena itu jalan ini secara resmi dikenal sebagai Jalan Jaksa...
potensi Jalan Jaksa sebagai pusat perdagangan barang dan jasa cukup besar. Ada sekitar ratusan tempat usaha di kawasan tersebut.agen perjalanan, toko buku, tempat penukaran mata uang, binatu, pub,  kafe, tempat makan atau restoran, wisma dan hotel mulai kelas melati hingga berbintang. 

Pada 5-7 Agustus 1994, Festival Jalan Jaksa tahunan diadakan pertama kalinya dan pada penyelenggaraan Jaksa Street Festival 2013 bisa mengundang turis-turis asing datang ke wilayah tersebut.

Senin, 23 September 2013

SERIBU BEDUK RAMAIKAN TAKBIRAN IDUL ADHA 1434 H. DI Jl SUDIRMAN

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Kementerian Agama berencana menggelar Night Religius Festival pada tanggal 15 Oktober 2013 yang akan datang. Acara tersebut untuk memeriahkan hari raya Idul Adha 1434 H.
Ditemui di Balaikota, Senin (23/9/2013), Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menjelaskan, acara tersebut akan diselenggarakan sepanjang Jalan Sudirman dan Jalan MH Thamrin, Jakarta.
"Nanti akan ada lebih dari 20 panggung di sepanjang jalan. Di sana juga akan disebar 1.000 beduk untuk meramaikan acara itu," ujar Jokowi, demikian nama Gubernur dikenal.
Di sejumlah panggung itu, lanjut Jokowi, beberapa tokoh akan diundang, baik di bidang agama maupun tokoh seni budaya berlatar Islami. Semisal, grup musik Kiayi Kanjeng, penyanyi Opick, dan penyanyi Sulis.
Jokowi ingin warga DKI menyambut hari Idul Adha 1434 H dengan berkualitas dan khidmat. Acara yang diselenggarakan oleh Biro Pendidikan Mental dan Spiritual (Dikmental) DKI Jakarta itu, lanjut Jokowi, dimaksudkan agar Jakarta memiliki warna Islami, tidak melulu menyelenggarakan acara hura-hura seperti yang selama ini dilakukan. "Ini bukan pesta. Kita ingin tunjukkan, DKI Jakarta ini adalah kota yang religius, yang Islami," ujarnya. Rencananya, acara yang berlangsung dari sore hingga tengah malam tersebut akan diselenggarakan tanpa pungutan biaya sepeser pun terhadap warga. Jokowi berharap masyarakat menyambutnya.

sumber KOMPAS  h**p://megapolitan.kompas.com/read/2013/09/23/2014440/Takbiran.Idul.Adha.Akan.Ada.Seribu.Beduk.di.Jalanan.Sudirman-Thamrin.

Selasa, 17 September 2013

Jokowi Terbiasa Kerja Detil Agar Tak Dibohongi Bawahan

Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, mengatakan dari dulu hingga sekarang dia sudah terbiasa bekerja detil. Kebiasaan tersebut membuatnya bisa menguasai hal-hal kecil.
Menurutnya, bekerja secara detil membuat bawahan tidak akan berani main-main atau berbohong kepada pimpinannya.

Hal tersebut diutarakan Jokowi, demikian ia disapa, saat ditanya mengenai resep kepemimpinan yang dijalankannya.
‘’Dari dulu sejak saya kerja di pabrik sampai sekarang, saya terbiasa kerja detil. Nyalain mesin, mengecat tapi pakai spray, saya bisa,’’ ujar Jokowi saat berkunjung dan berbincang dengan awak redaksi Republika, Selasa (17/9).

Dengan menguasai hal-hal kecil yang detil, Jokowi mengatakan, orang-orang di bawah tidak akan berani main-main. ‘’Karena, dia (bawahan) akan anggap pemimpinnya lebih mengerti dari dia,’’ ujarnya.

Saat ini, untuk urusan Jakarta, Jokowi pun mengatakan sudah mulai menguasai banyak hal. Dia bahkan berani diadu dengan lurah dan camat mengenai permasalahan Jakarta yang ada di wilayahnya.
Dia menyontohkan persoalan Waduk Pluit, Waduk Ria Rio, pengerjaan rumah susun. Menurutnya, dia sudah lebih banyak tahu di banding kepala dinas.

Mengetahui banyak hal, bagi seorang pemimpin menurutnya memang suatu keharusan. Namun, dia mengatakan pemimpin tersebut juga harus tahu mana yang prioritas dan harus diikuti.
‘’Ini agar tidak dibohongi bawahan. Makanya, saya harus turun ke lapangan,’’ ujarnya.

 http://www.republika.co..id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/13/09/17/mt9ii6-jokowi-terbiasa-kerja-detil-agar-tak-dibohongi-bawahan

Klarifikasi Soal Pembongkaran Masjid di Jatinegara

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama membenarkan bahwa pembongkaran Masjid Baitul Arif di Jalan Jatinegara Barat, Jakarta Timur memang untuk dibangun rumah susun. Namun demikian, ia menegaskan bahwa di area rusun juga akan dibangun masjid baru.

"Rusunnya kalau sudah jadi kita bikin masjid. Di rusun Marunda di rusun Daan Mogot kita juga bikin masjid kok," ujar dia di Balai Kota, Selasa (17/9).

Karenanya, sulung dari empat bersaudara ini meminta agar warga untuk sementara bisa menunaikan shalat di masjid lain. Sebab, katanya, jika tidak dibongkar, maka pemerintah tidak bisa membangun rusun dan masjid baru.

"Jadi harus dibedakan mana yang bongkar rumah ibadah sementara untuk dibangun lebih baik sama membongkar untuk melarang orang shalat. Beda lho," ujar suami dari Veronica Tan ini.

Sebelumnya, warga Jalan Jatinegara Barat mengeluhkan pembongkaran Masjid Baitul Arif yang berada di atas tanah milik Pemda DKI. Menurut mereka, pembongkaran rumah ibadah tersebut tanpa didahului musyawarah dengan pemuka agama setempat.