Tampilkan postingan dengan label jakarta timur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jakarta timur. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Desember 2014

Tahun 2015 mendatang, Pemkot Administrasi Jakarta Timur berencana membangun sembilan taman layak anak. Pembangunan taman ini diharapkan mampu menjadi wadah untuk berkreasi serta memimalisir angka kekerasan terhadap anak-anak.

" Selain sarana bermain anak, taman itu juga akan dilengkapi dengan fasilitas penunjang belajar dan kesehatan seperti perpustakaan dan puskesmas anak"
Kesembilan taman layak anak itu nantinya akan dilengkapi sarana bermain anak, seperti ayunan, papan catur raksasa, lapangan futsal, refleksi dan lainnya.



Kepala Suku Dinas Pertamanan Jakarta Timur, Suzi Marzitawati menjelaskan, sembilan taman layak anak itu masing-masing akan dibangun di  Kelurahan Cililitan, Kelurahan Kelapa Dua, Kelurahan Jatinegara, Kelurahan Klender dan Kelurahan Kampung Rambutan.

"Tahun ini kami baru membangun satu taman layak anak di Jalan Raya Bogor, Kramat Jati," kata Suzi, Selasa (2/12).

Dikatakan Suzi, pihaknya saat ini masih menggodok konsep sembilan taman layak anak yang akan dibangun. Kajian itu sendiri melibatkan  Kantor Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Keluarga Berencana (KPMP & KB) Jakarta Timur.

"Selain sarana bermain anak, taman itu juga akan dilengkapi dengan fasilitas penunjang belajar dan kesehatan seperti perpustakaan dan puskesmas anak,"

Kamis, 12 Juni 2014

Penderita HIV/AIDS di Jaktim Tertinggi di Ibu Kota

 Penderita HIV/AIDS di Jaktim Tertinggi di Ibu Kota

Penderita HIV/AIDS di DKI Jakarta terus meningkat tiap tahun. Tahun 2013 tercatat ada 24.807 kasus positif HIV dan 6.973 penderita AIDS. Padahal tahun lalu penderita baru berkisar 20 ribu orang. Dari lima wilayah, Jakarta Timur menempati posisi tertinggi dengan 1.416 kasus.  Rinciannya, penderita HIV mencapai 462 dan AIDS sebanyak 954 kasus. Jumlah penyakit HIV/AIDS terbanyak diderita kaum laki-laki dengan jumlah kasus 1.016 orang dan perempuan sebanyak 360 orang.
" Masyarakat Jakarta Timur banyak yang mulai sadar akan bahaya HIV/AIDS sehingga mulai melapor, akibatnya jumlah kasus yang terdeteksi juga lebih banyak"
Sementara rincian penderita HIV/AIDS empat wilayah lainnya yakni, Jakarta Barat yang menempati urutan kedua dengan jumlah 1.177 orang, Jakarta Pusat diurutan selanjutnya dengan kasus 938 orang. Jakarta Utara menduduki peringkat keempat dengan jumlah penderita penyakit mematikan itu berjumlah 863 orang.
Kasus HIV terendah temuan kasus penyakit yang belum ada obatnya itu selama tahun 2013 ditempati wilayah Jakarta Selatan dengan jumlah 819 kasus.
Anggota Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Jakarta Timur, dr Armida menuturkan, faktor penyebab tingginya temuan kasus penyakit HIV/AIDS di daerah yang berbatasan dengan Kota Bekasi itu, karena kesadaran warganya akan penyakit berbahaya tersebut cukup tinggi. 
    
“Masyarakat Jakarta Timur banyak yang mulai sadar akan bahaya HIV/AIDS sehingga mulai melapor, akibatnya jumlah kasus yang terdeteksi juga lebih banyak,”kata Armida, Kamis (12/6).
Selain itu berdasarkan faktor penularan, jumlah tertinggi karena heteroseksual sebanyak 646 orang (HIV 232 dan 414 AIDS) dan akibat narkoba suntik ada 610 orang (HIV 175 dan AIDS 435). Sementara berdasarkan faktor pekerjaan, sebanyak 352 orang tenaga profesional atau karyawan (HIV 124 dan AIDS 228) dan ibu rumah tangga sebanyak 210 orang (HIV 73 dan AIDS 137).
Atas temuan ini, kata Armida, membuat KPA Nasional menjadikan Jakarta Timur tempat pembelajaran (learning site) program penanggulangan HIV/AIDS di DKI Jakarta. Ada dua Puskemas yaitu Puskesmas Kecamatan Ciracas dan Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo yang menjadi fokus penelitian.
Armida menambahkan, terpilihnya dua puskesmas tersebut bukan lantaran dua kecamatan tersebut memiliki jumlah kasus terbesar. Namun lebih pada kelengkapan peralatan  dan tersedianya pelayanan yang lebih komprehensif.


sumber: berita jakarta

Rabu, 29 Januari 2014

Baru 40 Persen Jalan Rusak Diperbaiki

Banjir wilayah Jakarta Timur merusak sedikitnya 24.670 meter persegi jalan atau sekitar 0,38 persen dari total luas jalan sepanjang 6,480 juta meter persegi di wilayah tersebut. Dari jumlah itu, baru 40 persen yang telah diperbaiki. Sedangkan 60 persen lebihnya, baru ditargetkan rampung pada Kamis (30/1) besok.





Kerusakan jalan ini cukup mengganggu pengguna jalan, sehingga sangat rawan dengan kecelakaan lalulintas. Pantauan di lapangan, jalan rusak masih terlihat jelas di hampir ruas jalan yang ada di Jakarta Timur seperti di Jl Otista Raya, Jl Jatinegara Barat, Jl Jatinegara Timur, Jl Pramuka, Jl Pemuda. Kemudian Jl Raya Bekasi, Jl I Gusti Ngurah Rai, Jl Sumarno, Jl Raya Bogor, Jl DI Panjaitan, Jl Ahmad Yani, Jl Perintis Kemerdekaan, Jl Laut Arafuru, Jl Inspeksi Kalimalang dan sejumlah ruas jalan lainnya.

Kasie Pemeliharaan Jalan dan Jembatan Sudin Pekerjaan Umum (PU) Jalan Jakarta Timur, Ahmad Yazied mengatakan, dari seluruh ruas jalan rusak tersebut, saat ini sudah 40 persen diperbaiki. Ditargetkan 24.670 meter persegi jalan yang rusak itu rampung dikerjakan pada Kamis (30/1) besok. Namun, itu juga tergantung pada cuaca ibu kota. Jika diguyur hujan deras dan terjadi banjir maupun genangan maka pengerjaan bisa tertunda lagi.


Menurutnya, ruas jalan rusak yang telah dikerjakan itu antara lain di Jl Laut Arafuru sepanjang 500 meter. Kemudian Jl Bintara 300 meter persegi, Jl inspeksi Kali Cipinang atau Jl Laning sepanjang 500 meter persegi. Selain itu Jl I Gusti Ngurah Rai, Jl Bekasi Tmur, Jl Otista, Jl Jatinegara Barat, Jl Raya Bogor, Jl dr Sumarno dan Terminal Kampung Melayu.

Khusus jalan yang menjadi daerah langganan banjir, akan dibeton. Sebab, jika hanya dihotmix, khawatir rusak kembali. Termasuk semua jalan inspeksi di pinggir kali akan dibeton. Seperti Jl Inspeksi Kalimalang, Jl Inspeksi Kali Cipinang, Kali Sunter dan sebagainya.

Minggu, 19 Januari 2014

5 Kecamatan di Jaktim Terendam

Akibat meluapnya tiga sungai yaitu Sungai Ciliwung, Sungai Sunter dan Sungai Cipinang, sebanyak 5 kecamatan di Jakarta Timur terendam banjir. Masing-masing yaitu Kecamatan Jatinegara, Kramat Jati, Pasar Rebo, Makasar dan Cakung. Banjir juga melumpuhkan sejumlah akses jalan, karena badan jalan telah berubah menjadi genangan.

Selain merendam ribuan rumah di Kampung Pulo, Kelurahan Kampung Melayu, Kecamatan Jatinegara, banjir juga melumpuhkan Jl Jatinegara Barat. Sebanyak 3.787 warga telah mengungsi ke sejumlah tempat yaitu, Sudin Kesehatan Jakarta Timur, Gereja Okoinonia, Masjid At Tawabin, RS Hermina, Sekolah Santa Maria, kantor kelurahan dan sebagainya.




Jl Jatinegara Barat, sudah digenangi air sejak tadi malam sekitar pukul 24.00 dan hingga siang ini ketinggian air mencapai 60 sentimeter. Saat ini, lalulintas telah dialihkan melalui Jl Jatinegara Timur, untuk menuju Jl Matraman. Demikian halnya Jl Otista Raya, lumpuh akibat diterjang banjir dengan ketinggian 50 sentimeter. Kondisi serupa juga terjadi di Jl Pusdiklat Depnaker Makasar.

Berdasarkan data di Kelurahan Kampung Melayu, warga mengungsi di beberapa titik. Yakni di tenda yang dibangun di Jl Jatinegara Barat sebanyak 863 jiwa, kantor Sudinkes Jakarta Timur 963 jiwa, GOR Jakarta Timur 566 jiwa. Kemudian di Kelurahan Kampung Melayu 224 jiwa, SDN 01 Kampung Melayu 129 jiwa,  Masjid At-Tawabin 101 jiwa, RS Hermina 183 jiwa, Gereja Okoinonia 305 jiwa, SMPN 26 sebanyak 157 jiwa dan di Pos RW 03 ada 86 jiwa. Kemudian di Mushalla Khairul Anam 75 jiwa dan di gedung SDN Balimester 02 sebanyak 135 jiwa.

Lurah Kampung Melayu, Bambang Pangestu mengatakan, saat ini ketinggian air dari Ciliwung berkisar 40-450 sentimeter. "Warga sudah kita ungsikan sejak kemarin sore hingga tadi malam. Karena semalam masih ada warga yang memilih bertahan di rumah, akhirnya kita evakuasi paksa demi keselamatan warga," ujar Bambang, Sabtu (18/1).

Di Kecamatan Makasar, banjir hampir terjadi di lima kelurahan yakni, Kelurahan Makasar, Kebon Pala, Halim Perdana Kusuma, Pinang Ranti dan Cipinang Melayu. Jumlah warga yang terkena dampak pun mencapai ribuan. Tercatat di Kelurahan Cipinang Melayu ada 540 jiwa, Makasar 320 jiwa. Kemudian di Kelurahan Pinangranti 72 jiwa, Halim Perdana Kusuma 81 jiwa dan Kebon Pala 1.000 jiwa.

"Namun, tidak ada warga mengungsi. Banjir ini akibat luapan dari Kali Cipinang dan Kali Sunter," kata Ary Sonjaya, Camat Makasar.

Pihaknya juga mendapatkan bantuan dari Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo. Bantuan tersebut untuk korban banjir di Kelurahan Makasar berupa 25 karung beras yang totalnya sebanyak 1 ton. Kemudian 3 dus buku tulis atau 24 lusin dan sejumlah peralatan tulis lainnya.

Di Kecamatan Pasar Rebo, banjir terjadi di lima kelurahan. Yakni Kelurahan Pekayon, banjir setinggi 50-100 sentimeter, luapan dari Kali Cipinang. Yakni di RT 02, 04, 05 dan 10 RW 07. Akibatnya 55 kepala keluarga (KK) atau 95 jiwa terkena dampaknya. Kemudian di RT 13/09 sebanyak 15 KK atau 35 jiwa. Hal ini akibat luapan dari Situ Pedongkelan dengan ketinggian 60 sentimeter.

Di Kelurahan Kalisari, banjir terdapat di RT 05, 06 RW 11. Sedikitnya ada 50 KK atau 218 jiwa yang terkena dampaknya. Kemudian di RT 06/03 sebanyak 30 KK atau 72 jiwa. Ketinggian genangan berkisar 40-70 sentimeter.

Selanjutnya di Kelurahan Cijantung, banjir terdapat di RT 06/10. Di Kelurahan Baru terdapat di RW 06, sebanyak 10 KK atau 31 jiwa dengan ketinggian air sekitar 40 sentimeter. Selain itu di Kelurahan Gedong terdapat di RT 04/02, RT 01/11 dan RT 01/03 yang seluruhnya sebanyak 25 KK atau 65 jiwa. Ketinggian air mencapai 150 sentimeter.

"Namun sejauh ini tidak ada warga mengungsi. Karena air ini terus melintas ke dataran lebih rendah di wilayah lain. Korban banjir juga mendapatkan bantuan makanan dari Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur. Bahkan, Gubernur DKI juga memberikan bantuan beras dan peralatan sekolah bagi korban banjir," ucap Wahyu Supriyatna, Camat Pasar Rebo.

Di Kecamatan Cakung, banjir terjadi di enam kelurahan. Masing-masing di Kelurahan Pulogebang terdapat di lima RW. Akibatnya 210 KK harus mengungsi. Ketinggian air berkisar 40-100 sentimeter. Para korban banjir sudah mendapatkan bantuan berupa beras, mie instan, minyak goreng, sarden, kecap dan selimut. Seluruh bantuan dari Dinas Sosial DKI dan PMI.

Untuk Kelurahan Cakung Barat, banjir merendam empat RW dengan ketinggian air 40-100 sentimeter dari Kali Cakung. Namun, tidak ada warga yang mengungsi. Banjir terdapat di RW 01, 03, 07 dan 08. Kemudian di Kelurahan Rawa Terate, banjir terdapat di tiga RW. Yakni RW 04, 05 dan 06. Ketinggian air 40-200 sentimeter. Akibatnya 530 jiwa harus mengungsi. Yakni di Masjid Istiqomah dan mess karyawan PT Kramayudha sebanyak 320 orang, kantor Kelurahan Cakung Barat 60 orang dan di tenda Jl Cakung Barat sebanyak 150 orang.

"Selain itu banjir juga terjadi di Kelurahan Cakung Timur, yakni di RW 10 dan 12. Ketinggian air  60 sentimeter. Di Kelurahan Jatinegara, banjir terjadi di RW 10 dengan ketinggian air sekitar 30-50 sentimeter, yang menggenangi 35 rumah. Namun tak ada warga mengungsi. Selanjutnya di Kelurahan Penggilingan terjadi di RW 05, 08 dan 15. Ketinggian genangan 20-100 sentimeter. Sekitar 200 jiwa terpaksa mengungsi di mess Suzuki dan taman RT 13/05 dan pos RW 15," ujar Ali Murtadho, Camat Cakung..

Sementara, puluhan warga RW 03 Cipinang Melayu, Makasar, yang menjadi korban banjir, terpaksa mengungsi di pos RW dan Masjid Al Muqorobin. Namun, sejak terjadi banjir pekan lalu, warga hanya sekali mendapatkan bantuan makanan berupa nasi bungkus. Itupun jumlahnya tak sesuai dengan jumlah pengungsi.
"Banyak warga kelaparan, karena bantuan hanya dari PMI sebanyak 200 nasi bungkus. Padahal, warga kami yang mengungsi mencapai  900 jiwa," jelas Muchtar Usman, Ketua RW 03 Cipinang Melayu.

Untuk mengatasi kekurangan bantuan, pihak RW mendirikan posko banjir di Jl Raya Inspeksi Kalimalang. Pihaknya berharap ada uluran tangan dari pengendara untuk memberikan bantuan semampunya dan seikhlasnya.