Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Juli 2016

Kebun Binatang Ragunan (TMR) dipadati Pengunjung

Sebanyak 28.961 pengunjung mengunjungi objek wisata Taman Margasatwa Ragunan (TMR), di Hari Raya Idul Fitri 1437 H. Diperkirakan, jumlah pengunjung terus meningkat dan mencapai puncaknya, Sabtu (9/7).

Kepala Humas TMR, Bambang Wahyudi mengatakan, jumlah total pengunjung di hari raya didapat setelah penghitungan ditutup pukul 16.00 tadi. Sebanyak 5.488 kendaraan yang terdiri dari 1.223 mobil, 4.256 motor dan sembilan unit bus memasuki area TMR.

"Kalau lebaran hari pertama biasanya lebaran di rumah keluarga besar atau saudara. Hari kedua lebaran baru mulai ada peningkatan, kami prediksi lonjakan pengunjung pada Sabtu dan Minggu," katanya, Rabu (6/7).

Dikatakan Bambang, pada libur lebaran ini waktu kunjung pengunjung TMR juga diperpanjang. TMR mulai dibuka dari pukul 06.00 sampai dengan 17.00.

Ditambahkan Bambang, alat pembayaran untuk masuk TMR masih menggunakan kartu JakCard. Bahkan, pihak TMR sendiri sudah menyediakan 150.000 JakCard. Tarif masuk TMR, tidak ada perubahan yakni, Rp 4.500 untuk orang dewasa, dan Rp 3.500 untuk anak-anak.

"Kalau kekurangan kita tambah lagi, sudah berkoordinasi dengan Bank DKI. Kita gunakan continuous form antisipasi kalau ada terjadi trouble saja,"

Rabu, 04 Februari 2015

Pasar Induk Kramatjati Akan Dikembangkan Jadi Pasar Wisata

Menjelang penyelenggaraan Asian Games 2018 mendatang, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidajat menginstruksikan PD Pasar Jaya agar menata ulang Pasar Induk Buah-buahan dan Sayur Mayur Kramatjati, Jakarta Timur.


" Pasar Induk Kramatjati harus menjadi pasar wisata. Saya minta pengelola agar menata kembali. Paling tidak, sebelum Asian Games, pasar ini sudah rapi"
Djarot mengharapkan agar pusat grosir buah-buahan dan sayur mayur terbesar di Asia Tenggara ini bisa dikembangkan menjadi pasar wisata. Untuk itu diperlukan penataan ulang supaya pasar induk ini lebih rapi dan nyaman dikunjungi.

"Pasar Induk Kramatjati harus menjadi pasar wisata. Saya minta pengelola agar menata kembali. Paling tidak, sebelum Asian Games, pasar ini sudah rapi. Namun kami minta tahun 2016 sudah layak menjadi pasar wisata," kata Djarot saat melakukan blusukan ke Pasar Induk Buah-buahan dan Sayur Mayur Kramatjati, Rabu (4/2).

Dikatakan mantan Walikota Blitar ini, salah satu syarat untuk mewujudkan pasar wisata adalah lingkungannya harus bersih dan tidak adanya sampah yang menggunung. Pelayanan juga harus ditingkatkan sehingga konsumen merasa nyaman saat berbelanja.

Menurut Djarot, penataan lingkungan juga harus menyeluruh, seperti adanya lampu penerangan jalan serta aktivitas bongkar muat barang tidak menimbulkan kemacetan.

"Kontingen Asian Games dari luar negeri kan membutuhkan sayur mayur dan buah-buahan yang segar. Nah pasar ini harus bisa memberikan kesan yang bagus sehingga mereka juga dapat berwisata di pasar induk ini," imbuh Djarot.

Manajer Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-buahan Kramatjati, Muhammad Salam menjelaskan, pihaknya sedang melakukan perencanaan untuk menata ulang seluruh bagian pasar. Mulai dari jaringan komputerisasi, areal parkir, taman, pedagang kaki lima (PKL), dan sebagainya.

Sabtu, 14 Desember 2013

Menara Miring Jakarta (Menara Syahbandar)

    Dibangun sekitar tahun 1839 Menara Syahbandar populer disebut menara miring Jakarta yang berfungsi sebagai menara pemantau bagi kapal-kapal yang keluar-masuk Kota Batavia lewat jalur laut serta berfungsi kantor "pabean" yakni mengumpulkan pajak atas barang-barang yang dibongkar di pelabuhan Sunda Kelapa.


Menara ini dulunya menempati bekas bastion (kubu) Culemborg yang dibangun sekitar 1645, seiring pembuatan tembok keliling kota di tepi barat. Sebelum dibangun Menara Syahbandar, fungsi menara pemantau sudah dibangun di dekat bastion Culemborg dengan bentuk "tiang menara", di atasnya terdapat "pos" bagi petugas.

terdapat pintu besi di bawah Menara Syahbandar yang berupa jalan masuk ke dalam lorong bawah tanah menuju Benteng Frederik Hendrik (sekarang Masjid Istiqlal). Sesudah masa kemerdekaan, beberapa bangunan di dekatnya dirobohkan untuk perluasan jalan Pakin. Bangunan di tengah antara menara dan gedung administrasi, diganti dengan Prasasti di tugu yang ditandatangani Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin tahun 1977 sebagai penanda Kilometer 0.



Bertambahnya usia bangunan hingga saat ini kurang lebih 168 tahun, membuat bangunan setinggi 12 meter dengan ukuran 4x8 meter ini, secara perlahan menjadi miring inilah awal mula disebut "Menara Miring".
Dengan kemiringan yang kini sudah mencapai 5 derajat, getaran kendaraan berat seperti truk trailer dan sejenisnya dikhawatirkan semakin merusak pondasi bangunan cagar budaya tersebut. Terlebih, saat ini belum diberlakukan sterilisasi kendaraan di kawasan yang tahun depan bakal mendapat sertifikat world heritage dari UNESCO itu.

Posisinya yang persis di sisi jalan raya Pakin, di mana setiap hari padat oleh kendaraan dan tak jarang jenis kendaraan berat seperti truk kontainer, menambah beban getar di sisi selatan menara. Menara ini juga disebut "Menara Goyang" karena menara ini terasa bergoyang ketika mobil melewati sekitarnya.

Pada awal April 2007, telah dilakukan perbaikan oleh Pemprov DKI Jakarta sebagai realisasi Program Revitalisasi Kota Tua yang dicanangkan sejak tahun 2006.
Menaiki tangga menara, menelusuri ruang-ruangnya, serta mencapai puncak dan memandang kapal- kapal aneka rupa di Pelabuhan Sunda Kelapa adalah daya tarik menara ini.
Sebagai bekas benteng, di lantai bawah masih terdapat ruang bawah tanah untuk perlindungan dan pintu terowongan bisa tembus hingga Fatahillah (Museum Fatahillah, dulu Stadhuis) bahkan kemungkinan hingga Masjid Istiqlal karena dulu pernah ada Benteng Frederik Hendrik. Saat ini pintu menuju terowongan sudah ditutup, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan