Tampilkan postingan dengan label kota tua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kota tua. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Maret 2014

Kota Tua Mulai Direvitalisasi



Kota Tua Mulai Direvitalisasi

Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi) meresmikan program revitalisasi kawasan Kota Tua, Kamis (13/3) malam. Acara pencanangan revitalisasi KOta Tua bertajuk Fiesta Fatahillah ini digelar bersamaan dengan pembukaan Jakarta Contemporary Art Space di halaman Museum Fatahillah.

Acara Fiesta Fatahillah ini diselenggarakan oleh PT Pembangunan Kota Tua Jakarta (Jakarta Old Town Revitalization Corporation/JOTRC) dan Kelompok Pelestarian Budaya Kota Tua Jakarta (Jakarta Endowment For Art dan Heritage/JEFORAH). Kedua lembaga tersebut merupakan inisiasi dari Pemprov DKI, 2 BUMN, 9 pengusaha swasta, budayawan, aktivis, serta komunitas di ibu kota

Jokowi mengaku telah lama mengamati Kota Tua. Dia juga menceritakan awal dirinya memutuskan untuk meremajakan Kota Tua. "Delapan bulan lalu, saya bertemu dengan Pak Darmono beserta teman-teman untuk menyampaikan ide revitalisasi Kota Tua. Saya pun sudah sering berkeliling kawasan Kota Tua dan akhirnya saya putuskan tahun ini kita mulai revitalisasi," ujarnya.

Menurut Jokowi, revitalisasi kawasan Kota Tua yang memiliki luas sekitar 284 hektar akan sangat mudah terealisasi jika semua pihak bekerja sama. "Perorangan, swasta, BUMN dan Pemprov DKI yang memiliki lahan di kawasan Kota Tua bekerja sama untuk menata kembali baik rekonstruksi, restorasi, infrastruktur, dan penghijauan di kawasan Kota Tua," katanya.

Jokowi menilai kawasan Kota Tua di Jakarta memiliki potensi yang sangat besar dibandingkan kawasan serupa di negara lain. "Hari ini menjadi awal dimulainya revitalisasi Kota Tua sehingga di masa mendatang kawasan ini menjadi pusat pariwisata ternama di dunia," paparnya.

Sementara, Chairman Board of Trustee Jakarta Endowment for Artdan Heritage (JEFORAH), SD Darmono mengungkapkan, sekitar 56 persen gedung di kawasan Kota Tua dimiliki oleh pihak swasta. "40 persen gedung milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan sisanya 4 persen milik Pemprov DKI. Peremajaan Kota Tua tidak akan sulit bila ada kerja sama antar pemangku kepentingan," ungkapnya.
,
Sekadar diketahui, kawasan Kota Tua Jakarta merupakan tempat sejarah perjalanan bangsa dan bagian penting wilayah ibu kota.

Untuk mengembangkan perannya sebagai kawasan penting wisata sejarah ibu kota, Pemprov DKI pun melakukan revitalisasi dengan menggelar sebuah acara pencanangan melalui agenda bertajuk Fiesta Fatahillah.

Acara pencanangan revitalisasi Kota Tua diawali dengan pembukaan Jakarta Contemporary Art Space dan juga Visitor Center sebagai pusat informasi dan interaksi antara invenstor dan para ahli.

Pada kegiatan Fiesta Fatahillah akan menampilkan pagelaran seni dan budaya dari komunitas di Jakarta dan pertunjukan video mapping yang memproyeksikan Kota Tua masa depan.

Selain itu, digelar pula pameran seni rupa kontemporer yang diikuti 47 seniman ternama Indonesia diantaranya Agus Suwage, Arin Dwihartanto, Davy Linggar, Dolorosa Sinaga, Entang Wiharso, FX Harsono, Made Wianta, Nasirun, Nyoman Nuarta, dan Tisna Sanjaya. Pameran seni rupa ini digelar di lantai 2 Kantor Pos Fatahillah selama enam bulan hingga 13 September 2014.


Sumber: berita jakarta

Kamis, 06 Maret 2014

Fiesta Fatahillah Digelar Di Kota Tua




Fiesta Fatahillah Digelar Di Kota Tua

PT Pembangunan Kota Tua Jakarta bersama Jakarta Endowment For Art and Heritage (Jeforah) akan menyelenggarakan Fiesta Fatahillah pada Kamis (13/3) mendatang. Kegiatan ini akan menampilkan berbagai pertunjukan kegiatan seni dan festival makanan. Rencananya, kegiatan ini akan berlangsung selama enam bulan ke depan.

"Fiesta Fatahillah adalah langkah awal untuk memulai program yang lebih besar dalam upaya revitalisasi di kawasan Kota Tua," ujar Lin Che Wei, Dewan Direksi Jeforah, di Jakarta, Kamis (6/3).

Dikatakan Lin Che Wei, Fiesta Fatahillah akan menyajikan pameran seni rupa, festival makanan, dan video mapping. "Ada pula visitor center di lantai satu gedung pos sebagai pusat informasi bagi pihak yang ingin terlibat dalam revitalisasi Kota Tua," katanya.

Ia menjelaskan, visitor center ini ditujukan untuk para investor, ahli (arsitek, desainer, urban planner) untuk pelayanan terpadu dalam kegiatan revitalisasi Kota Tua. "Kami juga akan menggelar pameran seni rupa kontemporer yang diikuti 47 seniman Indonesia, termasuk Agus Suwage dan Dolorosa Sinaga di lantai dua Kantor Pos depan Museum Fatahillah," ucapnya.

Selain itu, lanjut Lin Che Wei, juga akan digelar festival makanan tradisional yang berlangsung dari tanggal 13 hingga 16 Maret mendatang. "Berbagai kuliner makanan akan menyemarakkan Fiesta Fatahillah," tuturnya.

Menurut Lin Che Wei, kegiatan Fiesta Fatahillah digelar untuk menghidupkan Kota Tua menjadi kawasan berkreasi. "Jeforah akan berupaya menjadikan Kota Tua menjadi kawasan yang lebih baik dan menarik untuk dikunjungi banyak orang," katanya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) DKI Jakarta, Arie Budhiman menegaskan, kawasan Kota Tua hingga saat ini masih menjadi idola baik dari segi ekonomi, sosial maupun budaya. "Dalam proses revitalisasi Kota Tua tentu tidak hanya dilakukan satu pihak tetapi juga pemerintah pusat, swasta, dan masyarakat," tegasnya.

Arie berharap, setelah pencanangan revitalisasi Kota Tua Jakarta pada 13 Maret 2014 nanti, akan semakin banyak pihak yang membantu pembangunan area tersebut. "Kota Tua tidak boleh dibiarkan, harus dijaga karena ini adalah heritage milik Jakarta," ujarnya.

Sekadar diketahui Fiesta Fatahillah akan dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo. Fiesta Fatahillah diselenggarakan oleh PT Pembangunan Kota Tua Jakarta (Jakarta Old Town Revitalization Corporation/JOTRC) dan Kelompok Pelestarian Budaya Kota Tua Jakarta (Jakarta Endowment For Art dan Heritage/JEFORAH).

Kedua lembaga ini merupakan inisiasi dari Pemprov DKI Jakarta, 2 BUMN, 9 pengusaha swasta, budayawan, aktivis, serta komunitas.



Sumber: berita jakarta

Jumat, 27 Desember 2013

Visual Kreatif hadir di Kota Tua

Teknologi visual ruang publik kreatif kini hadir di kawasan Kota Tua. Dengan demikian, nantinya setiap akhir pekan, warga yang berkunjung ke Kota Tua akan disuguhkan tayangan visual kreatif di Museum Sejarah Jakarta.






Tayangan visual kreatif yang biasa disebut video mapping tersebut merupakan sebuah pertunjungan video dengan menggunakan museum sejarah Jakarta sebagai layar. Untuk menampilkan video tersebut, digunakan alat semacam proyektor yang memproyeksikan gambar bergerak menggunakan cahaya.

Kepala Disparbud DKI Jakarta, Arie Budhiman mengatakan, pihaknya kini telah memiliki peralatan video mapping. Dengan peralatan itu, Pemprov DKI Jakarta akan mengoptimalkan kawasan Kota Tua sebagai ajang kreativitas masyarakat. "Alat tersebut kami beli seharga Rp 5 Miliar. Ini lebih efisien dibanding kami menyewa yang paling tidak menghabiskan Rp 2 Miliar untuk sewa alat selama 3 hari," ujar Arie, di kawasan Kota Tua, Jumat (27/12) malam.

Untuk materi pertunjukan, dikatakan Arie, pihaknya telah melibatkan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) sebagai kurator. Materinya sendiri, kata Arie, berdurasi 20 - 30 menit dan dalam satu malam bisa digelar dua kali pertunjukan antara pukul 20.00 dan 21.00.

Meski begitu, sambung Arie, kedepannya dia berharap masyarakat dapat lebih aktif terlibat. Sedangkan mengenai isi materi, pihaknya tidak akan membatasi asalkan tidak menyalahi norma dan aturan yang berlaku. "Seni kan dari rakyat untuk rakyat, kontennya nanti bisa diisi oleh siapapun. Kalau isinya menggambarkan tradisi ya silahkan saja," tandasnya.

Rabu, 13 November 2013

Gelaran Kampung Betawi di kawasan Kota Tua

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) DKI Jakarta akan menggelar Kampung Betawi di kawasan Kota Tua atau tepat di samping Stasiun Kota pada Sabtu (16/11) hingga Minggi (17/11). Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat mengangkat situs Kota Tua sebagai salah satu warisan budaya di ibu kota.



Kepala Dinas Disparbud DKI Jakarta, Arie Budhiman mengatakan, kegiatan ini nantinya akan dimeriahkan sejumlah event seperti festival kuliner. "Ini merupakan sebuah kolaborasi yang kebetawian, yang multi etnis, mungkin tidak keseluruhan namun yang dulu bersama membangun kebudayaan akan terlihat," ujar Arie, Rabu (13/11).

Kegiatan ini, kata Arie, juga akan dimeriahkan dengan pagelaran seni budaya Betawi yang edukatif karena menjelaskan bagaimana budaya ini mempengaruhi keberadaan masyarakat betawi masa kini. "Kampung Betawi di Kota Tua akan mengangkat budaya dan sejarah bagaimana masyarakat betawi yang akulturatif dulu terbentuk," katanya.

Dengan diadakannya kegiatan ini, Arie berharap, akan lebih mengajak masyarakat berkunjung ke Kota Tua dan bisa dinikmati wisatawan yang sedang ada di Jakarta. "Kami harapkan kehadirannya di kawasan Kota Tua pada hari pelaksanaan. Masyarakat diimbau tidak membawa kendaraan pribadi menuju lokasi kegiatan untuk mengurangi kemacetan," tandasnya.

Rabu, 06 November 2013

Jembatan Kota Intan (Kota Tua) indah tapi terlupakan

       Jembatan Kota Intan adalah salah dari sekian banyak bangunan bersejarah peninggalan Belanda di Jakarta Barat. Jembatan Kota Intan yang dibangun tahun 1628 di Jalan Kali Besar Barat, Kelurahan Roamalaka, Kecamatan Tambora, itu awalnya bernama Jembatan Engelse Brug atau Jembatan Inggris.Jembatan tersebut sebagai penghubung antara benteng Belanda (VOC) dan Inggris (IEC) yang saat itu berseberangan dan dibatasi oleh Kali Besar...pada tahun 1629 jembatan tersebut rusak akibat serangan Kerajaan Banten dan Mataram yang menyerang Benteng Batavia. Namun karena fungsinya yang sangat vital, setahun kemudian jembatan tersebut kembali dibangun oleh Belanda dan berganti nama dengan jembatan De Hoenderpasar Brig atau Jembatan Pasar Ayam. Tahun 1655 Jembatan Kota Intan kembali diperbaiki karena kerusakan akibat banjir dan korosi air laut, namanya pun kembali berganti menjadi Jembatan Het Middelpunt Brug Kemudian berganti nama lagi menjadi Jembatan Kota Intan karena letaknya dekat dengan salah satu Bastion Kastil Batavia bernama Bastion Diamont (intan).


jembatan kota intan (kota tua)

Pada 1938 fungsi jembatan diubah menjadi jembatan gantung. Tujuannya agar dapat diangkat untuk lalu lintas perahu dan mencegah kerusakan akibat banjir, namun bentuk dan gayanya tidak pernah diubah. Nama jembatan kembali berubah menjadi Jembatan Phalsbrug Juliana atau Juliana Bernhard, karena waktu itu Ratu Juliana yang menjadi ratu di Belanda.jembatan juga pernah diberi nama Jembatan Wilhemina (Wilhemina brug), ibu dari Juliana.

jembatan Kota Intan (Kota Tua) saat malam hari

Saat ini Jembatan Kota Intan merupakan satu-satunya yang tersisa dari jembatan sejenis yang pernah ada. Untuk melestarikan keberadaannya, pada tahun 1972 Gubernur DKI, Ali Sadikin, saat itu menetapkan Jembatan Kota Intan sebagai benda cagar budaya.

 Pada era Gubernur DKI Sutiyoso, tahun 1999 Jembatan Kota Intan direnovasi dengan menelan anggaran sekitar Rp 700 juta yang selanjutnya diresmikan April tahun 2000. Tampilan jembatan pun berubah karena setiap bentangan jembatan diberikan serat optik beraneka warna, ditambah 12 lampu sorot.dan pernah pula diperbaiki oleh, Fauzi Bowo Gubernur DKI Jakarta saat itu.

Namun, seiring berjalannya waktu, keberadaan jembatan kayu bercat merah marun sepanjang 30 meter dan lebar 4,43 meter yang usianya lebih dari 300 tahun itu, kini kondisinya memprihatinkan karena warnanya telah pudar dan kayunya pun keroos dimakan zaman.

 Saat ini kondisi Jembatan Kota Intan sangat memprihatinkan seolah terlupakan zaman. Cat warna merah marun yang menempel di kayu sudah banyak terkelupas, kayu-kayunya pun sudah retak. Bahkan, di sekeliling jembatan terlihat kumuh. Maklum, di sekeliling jembatan merupakan terminal bayangan tempat mikrolet, bajaj, dan pedagang kaki lima mangkal. Padahal, beberapa wisatawan asing dan lokal masih ramai mengunjungi jembatan tersebut, meski hanya untuk sekadar berfoto.

Kamis, 12 Juni 2008

KOTA TUA


KOTA TUA

Nah sekarang kita menuju arah barat, yaitu menuju kawasan kota tua. untuk dapat sampai ke kota tua sangatlah mudah nggak sulit apalagi kalau naik busway atau KRL, bisa dicapai dari mana aja,nyaman,bebas macet,dan yang penting mengurangi emisi gas buang kendaran,.... yaa selamatkan bumi kita,.... kampanye dikitlah, Sebelum sampai dihalte bus Transjakarta terakhir (kota tua) di kanan kiri mulai terlihat bangunan-bangunan tua. Kawasan kota tua dibagi menjadi beberapa sub Kawasan bersejarah,

Sunda Kelapa
Kampung Luar Batang
Museum Maritim Pasar Ikan
Galangan Benteng
Kampung Bandan
Kali Besar
Roa Malaka
Taman Fatahilah
Stasiun Kota
Pintu Kecil
Pasar Pagi Perniagaan
Glodok
Pinangsia


Berjalan-jalan disini serasa berada di Eropa, bangunan bangunan disini beraksitektur Eropa, ada juga bangunan yang gaya arsitekturnya yang dipadukan dengan gaya arsitektur Cina dan Arab,yaaaa jaman dulu bangetlah, sayangnya bayak yang nggak terrawat, tapi sebentar lagi berjalan-jalan di Kota Tua akan lebih menyenangkan, karena kawasan ini sedang dibenahi (revitalisasi), pejalan kaki dibuat nyaman disini, jalur pedesteriannya lebar,nantinya kendaraan bermotor akan dilarang memasuki kawasan ini, sebagai gantinya akan disediakan bus pariwisata unik, nantinya juga akan dibangun kembali gerbang Amsterdam dan historical trail

Tepat di sebelah halte busway terakhir ada setasiun Beos, stasiun ini sering dilafalkan dengan Bé-OS. Kini nama stasiun ini dikenal dengan nama STASIUN JAKARTA KOTA.Stasiun ini didirikan pada tahun 1929.Stasiun Beos merupakan salah satu landmark kota Jakarta Tua, didirikan pada awal tahun 1930an, yang juga merupakan lambang dari arstitektur bergaya modern pada masa itu. Merupakan pusat dari semua perjalanan kereta api pada masanya dan juga merupakan stasiun pertama yang dibuat.

Ke arah samping Museum Bank Mandiri. Gedung Museum ini dulunya adalah gedung pusat Bank Indonesia, arsitekturnya Neo-Classic, terlihat indah dengan ornamennya dan berwarna putih. Bangunan BI satu kesatuan dengan gedung disekelilingnya seperti Museum Fatahillah (dulunya merupakan gedung pemerintahan), Museum Seni Rupa (dulunya merupakan Gedung Pengadilan, didirikan tahun 1871), Museum Wayang (dulunya merupakan gereja), Stasiun Beos tidak dapat dilepaskan bahwa ia adalah satu dari saksi kejayaan Batavia Tempo Doeloe dan juga saksi dari perjalanan perkembangan kota Jakarta hingga sekarang ini.

Di kawasan ini juga sering diadakan festival atau pawai kebudayaan, pergelaran-pergalaran,.. semacam drama,(biasanya di depan museum Fatahilah) yaa semoga revitalisasinya cepat selesai,,, dan segera bisa dinikmati.